Mengenal Backward Pass, Metode Menghitung Batas Waktu Kritis Proyek

logo ikon media outsourcing

- Penulis

Kamis, 25 Juni 2026 - 13:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Media Outsourcing | Ketika proyek infrastruktur mangkrak, pemerintah selalu menyalahkan anggaran. Tapi data bicara lain: 54% keterlambatan terjadi karena manajemen proyek yang lemah, bukan karena kekurangan dana.

Fakta ini bukan sekadar tuduhan, penelitian terhadap tujuh proyek konstruksi di Indonesia yang diterbitkan dalam Jurnal Kajian Teknik Sipil UTA’45 Jakarta (2025) membuktikannya secara langsung. Sekitar 60-70% proyek konstruksi di Indonesia mengalami keterlambatan, dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan mencapai Rp15,2 triliun per tahun.

Yang membuat kondisi ini semakin memprihatinkan adalah bahwa keterlambatanproyek bukan hanya soal kerugian uang. Hal ini menyentuh dimensi yang lebih luas, yaitukepercayaan publik terhadap pemerintah yang terkikis, investasi swasta yang enggan masukkarena ketidakpastian jadwal, hingga efek domino pada sektor-sektor yang bergantung pada keberadaan infrastruktur tersebut. Dalam skala yang lebih besar, dapat menjadi pertandabahwa ada sesuatu yang sistemik dan berulang dalam cara proyek-proyek besar di Indonesia direncanakan dan dijalankan.

Ironisnya, masalah ini bukan karena tidak ada solusi. Dunia manajemen proyektelah mengembangkan berbagai pendekatan metodologis yang dirancang untuk mencegahketerlambatan sejak tahap perencanaan, bukan setelah proyek terlanjur terlambat. Namundalam praktiknya, pendekatan-pendekatan ini masih sering diabaikan atau diterapkan secaratidak konsisten, terutama pada proyek-proyek skala menengah di daerah yang pengawasannya lebih lemah.

Apa Itu Backward Pass?

Backward Pass adalah salah satu metode perhitungan dalam manajemen proyekyang bekerja dengan cara menghitung mundur dari tanggal selesai proyek untukmenentukan batas waktu paling lambat setiap pekerjaan boleh dimulai dan harusdiselesaikan, tanpa menyebabkan keterlambatan pada proyek secara keseluruhan. Metode ini merupakan bagian dari kerangka yang lebih besar bernama Critical Path Method atauCPM, sebuah pendekatan penjadwalan yang telah digunakan secara luas dalam industrikonstruksi, rekayasa, hingga pengembangan perangkat lunak sejak pertama kali dikembangkan oleh DuPont dan Remington Rand pada akhir tahun 1950-an.

Baca Juga :  Metode Least Cost: Solusi Efisien dalam Pengelolaan Biaya Distribusi

Berbeda dengan Forward Pass yang menghitung maju dari awal proyek untukmenemukan waktu tercepat setiap pekerjaan dapat dimulai dan diselesaikan, Backward Pass bergerak dari arah yang berlawanan. Ia memulai perhitungan dari titik akhir proyekdan menelusuri mundur setiap rangkaian pekerjaan hingga ke awal. Dari proses inilahdiperoleh dua informasi kunci pada setiap pekerjaan, yaitu Late Start sebagai batas paling lambat sebuah pekerjaan boleh dimulai, dan Late Finish sebagai batas paling lambat sebuahpekerjaan harus selesai.

Cara Kerja Backward Pass

Sebelum Backward Pass dapat dilakukan, Forward Pass harus diselesaikan terlebihdahulu. Ini karena Backward Pass membutuhkan satu titik awal yang pasti untuk memulaiperhitungannya, yaitu waktu selesai proyek yang diperoleh dari hasil Forward Pass. Dari titik itulah perhitungan mundur dimulai.

Langkah pertama adalah menetapkan Late Finish pada pekerjaan terakhir dalamjaringan proyek. Nilai ini umumnya disamakan dengan Early Finish yang diperoleh dariForward Pass, karena diasumsikan proyek harus selesai tepat pada waktu yang telahditentukan. Dari nilai Late Finish tersebut, Late Start pekerjaan terakhir dihitung dengancara mengurangi Late Finish dengan durasi pekerjaan itu sendiri.

Setelah pekerjaan terakhir selesai dihitung, proses berlanjut mundur ke pekerjaan-pekerjaan sebelumnya secara berurutan. Late Finish sebuah pekerjaan ditentukan oleh Late Start dari pekerjaan yang mengikutinya, karena sebuah pekerjaan harus selesai sebelumpekerjaan berikutnya boleh dimulai. Proses ini terus diulang mundur hingga seluruhpekerjaan dalam jaringan proyek memiliki nilai Late Start dan Late Finish masing-masing.

Baca Juga :  Analisis Pengelolaan Risiko Ruang Arsip pada Kantor BPJS Kesehatan Tangerang

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah ketika sebuah pekerjaan memiliki lebih darisatu pekerjaan penerus. Dalam kondisi ini, Late Finish pekerjaan tersebut diambil dari nilaiLate Start terkecil di antara seluruh pekerjaan penerusnya. Logikanya sederhana, jikasebuah pekerjaan harus selesai sebelum beberapa pekerjaan lain dapat dimulai, maka iaharus mengikuti jadwal penerus yang paling ketat agar tidak ada satu pun yang terhambat.

Hasil dari Backward Pass

Setelah seluruh nilai Late Start dan Late Finish diperoleh, tahap berikutnya adalahmenghitung Float setiap pekerjaan. Float adalah selisih antara Late Start dan Early Start, atau secara setara, selisih antara Late Finish dan Early Finish. Nilai ini mencerminkanseberapa besar kelonggaran waktu yang dimiliki sebuah pekerjaan sebelumketerlambatannya mulai berdampak pada jadwal proyek secara keseluruhan.

Pekerjaan dengan Float besar berarti memiliki ruang gerak yang cukup luas. Manajer proyek dapat mengalihkan sumber daya dari pekerjaan semacam ini ke pekerjaanlain yang lebih mendesak tanpa khawatir mengganggu jadwal akhir. Sebaliknya, pekerjaandengan Float kecil atau mendekati nol memerlukan perhatian yang jauh lebih ketat karenatoleransi terhadap keterlambatan hampir tidak ada.

Dari sinilah Jalur Kritis terbentuk. Jalur Kritis adalah rangkaian pekerjaan yang seluruhnya memiliki Float sama dengan nol, yang berarti tidak ada satu pun kelonggaranwaktu di antara mereka. Keterlambatan satu hari pada salah satu pekerjaan di jalur ini akansecara langsung menggeser tanggal selesai proyek sebesar satu hari pula.[]

Penulis: Tiara Azzahra Aproditha dan Jessica Amalia.

Dosen Pengampu: Chandra Fitra Arifianto, S.Psi., M.M.

Follow WhatsApp Channel mediaoutsourcing.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Metode Least Cost: Solusi Efisien dalam Pengelolaan Biaya Distribusi
Evolusi Teori Manajemen di Era AI, Pelajaran dari Transformasi Dunia Kerja Modern
Ketenagakerjaan di Indonesia dalam Perspektif Manajemen Hubungan Industrial
Mengapa Analisis Lingkungan Internal Menentukan Kesuksesan Strategi?
Mengapa Organisasi Bisa Runtuh hanya Karena Salah Komunikasi?
Rupiah Goyang, BBM Naik: Cerminan Kerentanan Ekonomi Terbuka
Transformasi Digital Koperasi dan UMKM, Strategi Meningkatkan Daya Saing di Era Modern
Ketika Investor Indonesia Mengikuti Tren Bukan Analisis

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 10:36 WIB

Metode Least Cost: Solusi Efisien dalam Pengelolaan Biaya Distribusi

Kamis, 25 Juni 2026 - 13:20 WIB

Mengenal Backward Pass, Metode Menghitung Batas Waktu Kritis Proyek

Rabu, 24 Juni 2026 - 19:51 WIB

Evolusi Teori Manajemen di Era AI, Pelajaran dari Transformasi Dunia Kerja Modern

Sabtu, 20 Juni 2026 - 17:57 WIB

Ketenagakerjaan di Indonesia dalam Perspektif Manajemen Hubungan Industrial

Sabtu, 20 Juni 2026 - 12:59 WIB

Mengapa Analisis Lingkungan Internal Menentukan Kesuksesan Strategi?

Berita Terbaru

dok spsi bekasi

Nasional

Revisi Tentang Tenaga Outsourcing Awal Juli akan Diterbitkan

Selasa, 23 Jun 2026 - 21:35 WIB