Mediaoutsourcing.id | Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah membawa perubahan signifikan dalam aktivitas investasi masyarakat Indonesia. Kemudahan akses informasi melalui platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan X memungkinkan investor memperoleh berbagai informasi investasi secara cepat dan luas. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu menghasilkan keputusan investasi yang rasional. Dalam perspektif behavioral finance, keputusan investasi sering kali dipengaruhi oleh faktor psikologis dibandingkan pertimbangan ekonomi yang objektif. Investor tidak selalu bertindak rasional sebagaimana diasumsikan dalam teori keuangan tradisional. Sebaliknya, mereka rentan terhadap berbagai bias perilaku seperti Fear of Missing Out (FOMO), herding behavior, dan overconfidence.
Fenomena FOMO semakin meningkat seiring berkembangnya media sosial. Investor cenderung merasa takut kehilangan peluang keuntungan ketika melihat banyak orang memperoleh keuntungan dari suatu aset yang sedang populer. Kondisi ini mendorong investor membeli aset berdasarkan tren pasar tanpa melakukan analisis fundamental yang memadai. Selain itu, munculnya finfluencer atau influencer finansial turut memperkuat pengaruh media sosial terhadap keputusan investasi. Rekomendasi investasi yang disampaikan secara menarik dan persuasif sering kali lebih dipercaya dibandingkan sumber informasi resmi.
Akibatnya, banyak investor pemula mengambil keputusan secara impulsif dan berisiko mengalami kerugian. Berdasarkan fenomena tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh FOMO, herding behavior, dan media sosial terhadap perilaku investasi investor Indonesia dalam perspektif behavioral finance.
Kajian Literatur
Fear of Missing Out (FOMO) merupakan kondisi psikologis yang mendorong investor untuk segera membeli aset karena takut kehilangan peluang keuntungan yang sedang tren. FOMO cenderung meningkatkan keputusan investasi yang bersifat impulsif dan mengurangi pertimbangan analisis fundamental.
Herding behavior adalah kecenderungan investor mengikuti keputusan mayoritas dalam berinvestasi. Perilaku ini dapat menyebabkan investor membeli atau menjual aset berdasarkan tren pasar tanpa mempertimbangkan nilai intrinsik aset tersebut, sehingga meningkatkan risiko kesalahan investasi.
Media sosial menjadi sumber informasi utama bagi banyak investor, khususnya generasi muda. Penyebaran informasi yang cepat melalui media sosial dapat memengaruhi persepsi dan keputusan investasi investor. Namun, informasi yang tidak selalu akurat berpotensi mendorong pengambilan keputusan yang kurang rasional dan lebih dipengaruhi oleh emosi dibandingkan analisis yang mendalam.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode studi literatur (library research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari berbagai jurnal ilmiah nasional yang membahas perilaku investor Indonesia, khususnya terkait FOMO, herding behavior, overconfidence, media sosial, dan keputusan investasi.
Tahapan penelitian meliputi pengumpulan literatur yang relevan, identifikasi temuan utama dari setiap penelitian, analisis hubungan antarvariabel, serta penarikan kesimpulan mengenai pengaruh media sosial terhadap perilaku investasi investor Indonesia. Analisis dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian terdahulu untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai fenomena investasi digital di Indonesia.
Hasil dan Pembahasan
FOMO merupakan kondisi psikologis ketika seseorang merasa takut kehilangan kesempatan yang sedang dinikmati orang lain. Dalam konteks investasi, FOMO mendorong investor membeli aset karena melihat tren kenaikan harga atau keberhasilan investor lain memperoleh keuntungan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa FOMO menjadi salah satu faktor dominan yang memengaruhi keputusan investasi investor Indonesia. Investor sering kali membeli saham atau instrumen investasi lainnya tanpa melakukan analisis mendalam karena takut kehilangan peluang keuntungan yang sedang viral di media sosial.
Herding behavior adalah kecenderungan individu mengikuti tindakan mayoritas. Investor sering menganggap keputusan yang diambil banyak orang sebagai keputusan yang benar sehingga memilih mengikuti arus pasar. Perilaku ini semakin kuat dengan adanya media sosial yang memungkinkan informasi dan opini menyebar secara cepat. Ketika suatu saham menjadi perbincangan luas, investor lain terdorong untuk ikut membeli tanpa mempertimbangkan kondisi fundamental perusahaan. Akibatnya, harga aset dapat mengalami kenaikan yang tidak mencerminkan nilai sebenarnya.
Finfluencer memiliki pengaruh besar terhadap investor, terutama investor pemula. Konten investasi yang menarik dan mudah dipahami membuat banyak investor menjadikan finfluencer sebagai sumber utama informasi keuangan. Namun, tidak semua finfluencer memiliki kompetensi dan kredibilitas yang memadai. Investor yang memiliki literasi keuangan rendah cenderung lebih mudah terpengaruh oleh rekomendasi investasi yang beredar di media sosial. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan terjadinya keputusan investasi yang impulsif dan kurang rasional.
Kombinasi antara FOMO, herding behavior, dan pengaruh finfluencer menyebabkan investor lebih mengutamakan sentimen pasar dibandingkan analisis fundamental. Investor cenderung membeli aset saat harga sudah tinggi dan menjualnya ketika terjadi penurunan harga karena panik. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perilaku investor Indonesia masih sangat dipengaruhi faktor psikologis. Oleh karena itu, peningkatan literasi keuangan dan pemahaman mengenai behavioral finance diperlukan untuk membantu investor mengelola emosi dan membuat keputusan investasi yang lebih rasional.
Kesimpulan
Media sosial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku investasi investor Indonesia. FOMO, herding behavior, dan pengaruh finfluencer menjadi faktor utama yang mendorong investor mengambil keputusan investasi berdasarkan tren dan tekanan sosial dibandingkan analisis yang rasional. Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku investor tidak selalu sesuai dengan asumsi rasionalitas dalam teori keuangan tradisional. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan literasi keuangan, kemampuan analisis investasi, dan kesadaran terhadap bias perilaku agar investor dapat mengambil keputusan yang lebih bijaksana serta meminimalkan risiko kerugian di pasar modal.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku investor tidak selalu sesuai dengan asumsi rasionalitas dalam teori keuangan tradisional. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan literasi keuangan, kemampuan analisis investasi, dan kesadaran terhadap bias perilaku agar investor dapat mengambil keputusan yang lebih bijaksana serta meminimalkan risiko kerugian di pasar modal.
Referensi
Indo-Fintech Intellectuals: Journal of Economics and Business. (2025). Penelitian mengenai pengaruh Fear of Missing Out (FOMO) terhadap keputusan investasi investor pasar modal Indonesia.
Jurnal Economia Universitas Negeri Yogyakarta. (2025). Pengaruh overconfidence, herding behavior, dan FOMO terhadap keputusan investasi investor Indonesia.
Bisman Journal of Business and Management. (2025). Pengaruh finfluencer dan FOMO terhadap keputusan investasi investor pemula.
Jurnal Indonesia Sosial Teknologi. (2024). Pengaruh herding behavior terhadap Fear of Missing Out pada investor ritel Indonesia.
Jurnal Masharif Al-Syariah. (2024). Pengaruh media sosial dan FOMO terhadap perilaku investasi generasi muda Indonesia.
Ketika Investor Indonesia Mengikuti Tren, Bukan Analisis
Ardi Satya Nugraha, Muhamad Aldiyanto, Anisah, Mutia Yusindriani dan Endang Puji Astutik
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang












