Mediaoutsourcing.id | Jakarta–Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis pertumbuhan industri manufaktur nasional pada 2026 akan mengalami pertumbuhan sebesar 5,51 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi 2025 yang tumbuh sebesar 5,17 persen.
Hal tersebut dikemukakan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam paparannya dalam acara Kinerja Industri Manufaktur Tahun 2025 dan Outlook Industri Manufaktur 2026 yang berlangsung di Jakarta, Rabu (31/12/2025).
“Terus terang 2025 ini memang tahun yang sangat berat bagi kita semua bukan hanya di Indonesia namun bagi seluruh pelaku industri di seluruh dunia. Namun dengah begitu beratnya di 2025, kita masih tumbuh 5,17 persen,” ungkap Agus.
Menperin menjelaskan, sepanjang 2025 ada sejumlah sektor industri yang mengalami pertumbuhan yang menggembirakan seperti industri logam dasar, industri mesin dan perlengkapan serta industri kimia, farmasi dan obat tradisional.
Sebaliknya ada sejumlah industri yang mengalami pertumbuhan industri yang kurang menggembirakan seperti industri pengolahan tembakau, industri alat angkutan, industri karet, barang dari karet dan plastik, industri furnitur serta industri kayu, barang dari kayu dan gabus dan barang anyaman.
Hal yang menggembirakan lainnya, lanjut Menperin adalah sekitar 80 persen produksi yang dihasilkan oleh industri manufaktur dalam negeri ternyata diserap oleh pasar di dalam negeri.
Kondisi ini yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ranking Manufacturing Value Added (MVA) terbesar di ASEAN dan peringkat ke-13 besar dunia.
“Ini yang bicara bukan saya tapi dari yang dirilis oleh Bank Dunia. Di Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi pertama (USD265,07 miliar). Nilai MVA Indonesia ini berada jauh di atas Thailand (Peringkat 2 dengan nilai USD128,04 miliar) dan Vietnam (Peringkat 3 dengan nilai USD116,38 miliar),” paparnya.
Sementara terkait proyeksi pertumbuhan industri manufaktur nasional untuk tahun 2026, Menperin optimistis angkanya bisa tumbuh sebesar 5,51 persen.
Salah satu yang menjadi fokus Kemenperin ke depan adalah mendongkrak pertumbuhan dari sektor industri halal, di mana saat ini Indonesia masih berada di bawah Malaysia dan Arab Saudi.
“Ke depan saya akan fokus di industri halal. Ini potensi ekonominya besar sekali. Saat ini kita memang masih di bawah Malaysia dan Arab Saudi. Namun jika melihat tren pertumbuhannya sepanjang tahun 2025 kita berhasil tumbuh 19,8 persen, sedangkan Malaysia trennya justru turun. Saya optimistis kalau konsisten hanya dalam waktu singkat kita bisa lampaui Malaysia,” pungkasnya.[]











