Media Outsourcing | Indonesia memiliki jumlah tenaga kerja yang besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2026 jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang, dengan 147,67 juta orang di antaranya sudah bekerja. Tingkat Pengangguran Terbuka pada periode yang sama berada di angka 4,68 persen. Namun, banyaknya tenaga kerja belum tentu menunjukkan bahwa kebutuhan dunia kerja sudah sepenuhnya terpenuhi. Salah satu persoalan yang masih terlihat adalah ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan. BPS mencatat bahwa lebih dari sepertiga pemuda Indonesia bekerja pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya. Kondisi ini disebut sebagai vertical mismatch dan dapat menimbulkan dampak seperti ketidaksesuaian upah serta inefisiensi ekonomi. BPS juga menekankan pentingnya peningkatan keterampilan digital, sertifikasi kompetensi, serta pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan sumber daya manusia tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak tenaga kerja yang tersedia, tetapi juga mengenai seberapa sesuai kemampuan seseorang dengan pekerjaan yang dijalankan. Di sisi lain, dunia kerja terus membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan yang semakin beragam. Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya mencari karyawan untuk mengisi posisi yang kosong, tetapi juga perlu mempertimbangkan kompetensi dan potensi yang dimiliki calon karyawan.
Menurut saya, mencari talenta yang tepat seharusnya tidak berhenti pada proses rekrutmen. Karyawan yang memiliki potensi juga perlu diberikan kesempatan untuk berkembang melalui pelatihan, pengalaman kerja, pendampingan, dan pengembangan karier. Dengan begitu, perusahaan tidak hanya mendapatkan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga dapat membentuk SDM yang mampu berkembang mengikuti kebutuhan perusahaan di masa depan.
Masalah dalam Menemukan Talenta yang Tepat
Salah satu masalah yang masih sering dihadapi perusahaan adalah menemukan tenaga kerja yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Banyaknya jumlah tenaga kerja yang tersedia tidak secara otomatis membuat perusahaan mudah mendapatkan karyawan yang tepat. Setiap posisi memiliki kebutuhan kemampuan yang berbeda, sehingga perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang memiliki latar belakang pendidikan tertentu, tetapi juga membutuhkan keterampilan, pengalaman, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar.
Masalah tersebut semakin terlihat ketika terdapat ketidaksesuaian antara pendidikan yang dimiliki seseorang dengan pekerjaan yang dijalankan. Seseorang mungkin sudah menyelesaikan pendidikan di bidang tertentu, tetapi pekerjaan yang tersedia belum tentu sesuai dengan bidang tersebut. Akibatnya, kemampuan yang dimiliki tidak selalu dapat digunakan secara maksimal. Bagi perusahaan, kondisi ini juga dapat menjadi tantangan karena karyawan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan dan mempelajari keterampilan yang sebenarnya dibutuhkan.
Di sisi lain, proses rekrutmen juga terkadang lebih berfokus pada mencari kandidat yang sudah memiliki kemampuan sesuai dengan posisi yang tersedia. Cara tersebut memang dapat membantu perusahaan mendapatkan karyawan yang siap bekerja, tetapi dapat membuat perusahaan melewatkan calon karyawan yang sebenarnya memiliki potensi untuk berkembang. Tidak semua orang yang belum memiliki kemampuan secara lengkap berarti tidak mampu menjalankan pekerjaan dengan baik. Ada calon karyawan yang mungkin masih membutuhkan pelatihan, tetapi memiliki kemauan belajar, kemampuan beradaptasi, dan potensi yang dapat dikembangkan.
Permasalahan juga tidak berhenti setelah perusahaan mendapatkan karyawan. Ketika karyawan sudah bekerja, perusahaan perlu memikirkan bagaimana kemampuan mereka dapat terus berkembang. Perubahan teknologi, cara kerja, dan kebutuhan pelanggan membuat keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja juga ikut berubah. Jika perusahaan tidak memberikan kesempatan bagi karyawan untuk belajar dan mengembangkan kemampuan, maka keterampilan yang dimiliki karyawan dapat tertinggal dari kebutuhan pekerjaan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan SDM tidak cukup hanya dengan merekrut karyawan ketika perusahaan membutuhkan tenaga kerja. Perusahaan juga perlu mengetahui kemampuan yang sudah dimiliki karyawan, melihat potensi yang dapat dikembangkan, serta memberikan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan. Dengan begitu, perusahaan tidak hanya mendapatkan karyawan untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan saat ini, tetapi juga dapat menyiapkan SDM yang mampu menghadapi kebutuhan perusahaan di masa yang akan datang.
Pengembangan Potensi Karyawan yang Belum Optimal
Setelah melihat berbagai permasalahan dalam dunia kerja, hal pertama yang perlu diperhatikan perusahaan adalah bagaimana cara menemukan talenta yang tepat. Dalam proses rekrutmen, perusahaan tentunya ingin mendapatkan karyawan yang mampu menjalankan pekerjaan sesuai dengan kebutuhan posisi yang tersedia. Namun, mencari talenta yang tepat sebenarnya tidak cukup hanya dengan melihat latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, atau kemampuan teknis yang tercantum dalam daftar riwayat hidup. Perusahaan juga perlu melihat kemampuan lain yang dimiliki calon karyawan, seperti kemampuan beradaptasi, komunikasi, kerja sama, kemauan untuk belajar, serta potensi yang masih dapat dikembangkan.
Hal ini menjadi penting karena tidak semua orang yang memiliki latar belakang pendidikan tertentu akan bekerja sesuai dengan bidang pendidikannya. Badan Pusat Statistik dalam publikasi Cerita Data Statistik untuk Indonesia: Mismatch Pendidikan–Pekerjaan Pemuda Indonesia: Implikasi Bagi Bonus Demografi menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga pemuda Indonesia bekerja pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya. Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pendidikan dengan pekerjaan yang dijalankan. BPS juga menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat memberikan dampak terhadap upah dan menimbulkan inefisiensi ekonomi.
Karena itu, perusahaan perlu lebih teliti dalam menentukan kriteria talenta yang dibutuhkan. Kandidat yang terlihat memenuhi persyaratan belum tentu menjadi orang yang paling sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Sebaliknya, seseorang yang belum memiliki seluruh keterampilan yang dibutuhkan bisa saja memiliki potensi yang besar apabila diberikan kesempatan untuk belajar dan berkembang. Menurut saya, cara pandang seperti ini penting karena perusahaan tidak hanya membutuhkan karyawan yang bisa bekerja untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga membutuhkan orang yang mampu berkembang mengikuti perubahan perusahaan.
Dengan demikian, proses mencari talenta sebaiknya tidak hanya berorientasi pada “siapa yang paling memenuhi persyaratan”, tetapi juga mempertimbangkan “siapa yang memiliki potensi untuk berkembang”. Perusahaan dapat menggunakan proses seleksi, wawancara, tes kemampuan, maupun penilaian lainnya untuk melihat kesesuaian antara kemampuan calon karyawan dengan pekerjaan yang akan diberikan. Semakin tepat perusahaan mengenali talenta sejak awal, semakin besar peluang perusahaan untuk menempatkan orang yang sesuai pada posisi yang tepat.
Peran Perencanaan SDM dalam Menghadapi Perubahan Dunia Kerja
Mendapatkan talenta yang tepat merupakan langkah awal, tetapi bukan berarti proses pengelolaan SDM berhenti setelah karyawan diterima. Karyawan yang sudah bergabung tetap membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan. Hal ini karena dunia kerja terus mengalami perubahan, baik karena perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan konsumen, maupun perubahan cara perusahaan menjalankan kegiatan bisnisnya. Keterampilan yang dibutuhkan saat ini belum tentu sama dengan keterampilan yang dibutuhkan beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, perusahaan perlu memberikan ruang bagi karyawan untuk terus belajar. Pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, pemberian pengalaman baru, rotasi pekerjaan, maupun kesempatan untuk mengikuti program pengembangan karier. Pengembangan karyawan juga tidak selalu harus dilakukan melalui pelatihan yang bersifat formal. Karyawan dapat belajar dari atasannya, rekan kerja, pengalaman menghadapi masalah, maupun tugas baru yang diberikan oleh perusahaan.
Pentingnya pengembangan keterampilan juga terlihat dari program pemerintah. Kementerian Ketenagakerjaan pada tahun 2026 menekankan pentingnya pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja. Program Pelatihan Vokasi Nasional 2026 diarahkan untuk membantu peserta memperoleh keterampilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengembangan keterampilan perlu memperhatikan kebutuhan nyata di dunia kerja, bukan hanya memberikan pelatihan tanpa melihat kebutuhan kompetensinya.
Menurut saya, perusahaan perlu melihat karyawan bukan hanya berdasarkan kemampuan yang sudah dimiliki, tetapi juga berdasarkan potensi yang masih bisa dikembangkan. Misalnya, seorang karyawan mungkin belum terlalu menguasai suatu keterampilan ketika pertama kali bekerja. Namun, jika karyawan tersebut memiliki kemauan belajar dan mendapatkan pelatihan serta pendampingan yang tepat, kemampuannya dapat berkembang. Dari sinilah perusahaan dapat membentuk SDM yang lebih sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Pengembangan potensi juga dapat memberikan manfaat bagi karyawan. Ketika karyawan mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan memiliki arah perkembangan karier yang jelas, mereka akan memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Perusahaan pun memiliki tenaga kerja yang semakin siap menghadapi perubahan. Dengan begitu, pengembangan SDM bukan hanya menjadi keuntungan bagi perusahaan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi karyawan untuk berkembang dalam pekerjaannya.
Peran Perencanaan SDM dalam Membentuk SDM Berkualitas
Mencari talenta dan mengembangkan potensi karyawan pada akhirnya membutuhkan perencanaan yang jelas. Di sinilah perencanaan SDM memiliki peran penting. Perusahaan perlu mengetahui berapa jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, kemampuan seperti apa yang diperlukan, posisi apa saja yang harus diisi, serta keterampilan apa yang perlu dikembangkan dari karyawan yang sudah ada. Perencanaan SDM seharusnya tidak hanya dilakukan ketika perusahaan sedang membutuhkan karyawan baru. Jika perusahaan baru memikirkan kebutuhan tenaga kerja ketika posisi sudah kosong, proses rekrutmen dapat menjadi terburu-buru. Perusahaan mungkin hanya berfokus pada siapa yang bisa segera mengisi posisi tersebut tanpa mempertimbangkan apakah orang tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam jangka panjang. Dengan adanya perencanaan yang lebih baik, perusahaan dapat melakukan pemetaan kebutuhan SDM. Misalnya, perusahaan dapat melihat posisi yang membutuhkan tambahan tenaga kerja, kemampuan yang masih kurang, serta karyawan yang memiliki potensi untuk dikembangkan ke posisi tertentu. Hasil pemetaan tersebut kemudian dapat menjadi dasar dalam menentukan apakah perusahaan perlu melakukan rekrutmen baru atau justru mengembangkan karyawan yang sudah dimiliki.
Hal ini juga sejalan dengan upaya pengembangan keterampilan yang dilakukan pemerintah melalui pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri. Kementerian Ketenagakerjaan melalui program pelatihan vokasi menekankan pentingnya keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan SDM akan lebih efektif jika dilakukan berdasarkan kebutuhan kompetensi yang jelas.
Menurut saya, perencanaan SDM yang baik harus melihat kebutuhan perusahaan bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk masa yang akan datang. Perusahaan perlu memikirkan perubahan yang mungkin terjadi dan kemampuan apa yang akan dibutuhkan untuk menghadapinya. Dengan begitu, perusahaan tidak terus-menerus mencari tenaga kerja baru setiap kali kebutuhan berubah, tetapi dapat menyiapkan dan mengembangkan karyawan yang sudah ada.
Pada akhirnya, mencari talenta yang tepat dan mengembangkan potensi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Perusahaan membutuhkan proses rekrutmen yang mampu menemukan orang yang sesuai, tetapi perusahaan juga perlu memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk terus berkembang. Jika keduanya didukung dengan perencanaan SDM yang baik, perusahaan dapat membangun tenaga kerja yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pekerjaan saat ini, tetapi juga lebih siap menghadapi perubahan di masa depan.
Opini : Tidak Hanya Mencari Karyawan yang Sudah “Jadi”
Menurut saya, perusahaan sebaiknya tidak hanya mencari karyawan yang sudah memiliki seluruh kemampuan yang dibutuhkan sejak awal. Memang, mendapatkan karyawan yang sudah berpengalaman dan memiliki keterampilan sesuai posisi akan membantu pekerjaan berjalan lebih cepat. Namun, perusahaan juga perlu melihat bahwa setiap orang memiliki potensi yang dapat dikembangkan.
Karyawan yang belum menguasai semua keterampilan bukan berarti tidak mampu memberikan kontribusi. Dengan pelatihan, pendampingan, pengalaman, dan kesempatan untuk belajar, kemampuan seseorang dapat berkembang seiring waktu. Justru dari proses tersebut perusahaan dapat membentuk karyawan yang semakin memahami pekerjaan sekaligus memahami kebutuhan perusahaan.
Menurut saya, perusahaan juga perlu memberikan kesempatan yang sama kepada karyawan untuk menunjukkan kemampuannya. Tidak semua potensi dapat terlihat ketika proses rekrutmen berlangsung. Ada karyawan yang mungkin pada awalnya terlihat biasa saja, tetapi setelah diberikan tanggung jawab dan kesempatan untuk belajar ternyata mampu menunjukkan perkembangan yang baik.
Karena itu, perusahaan perlu menyeimbangkan antara mencari talenta yang sesuai dengan kebutuhan dan mengembangkan talenta yang sudah dimiliki. Rekrutmen yang tepat dapat membantu perusahaan mendapatkan orang yang sesuai, sedangkan pengembangan yang terencana dapat membuat kemampuan karyawan terus bertumbuh. Keduanya perlu berjalan bersama agar pengelolaan SDM tidak hanya berfokus pada kebutuhan perusahaan saat ini, tetapi juga mempersiapkan tenaga kerja untuk menghadapi kebutuhan di masa depan.
Pada akhirnya, membentuk SDM yang berkualitas bukanlah proses yang dapat dilakukan hanya dalam satu tahap. Perusahaan perlu memulai dari bagaimana menemukan talenta yang sesuai, kemudian memberikan kesempatan kepada talenta tersebut untuk berkembang. Karyawan juga perlu diberikan ruang untuk belajar, meningkatkan keterampilan, dan mendapatkan pengalaman agar potensi yang dimiliki dapat digunakan secara maksimal. Perencanaan SDM menjadi bagian penting dalam proses tersebut karena perusahaan perlu mengetahui kebutuhan tenaga kerja, kompetensi yang diperlukan, serta kemampuan yang masih perlu dikembangkan. Dengan perencanaan yang baik, perusahaan tidak hanya mencari orang untuk mengisi posisi yang kosong, tetapi juga menyiapkan SDM yang mampu mendukung perkembangan perusahaan dalam jangka panjang.
Mencari talenta yang tepat memang penting, tetapi mengembangkan talenta yang sudah dimiliki juga tidak kalah penting. SDM berkualitas tidak selalu terbentuk dari orang yang sejak awal sudah memiliki kemampuan lengkap, melainkan dapat dibentuk melalui proses yang terencana, kesempatan untuk berkembang, dan kemauan untuk terus belajar. Dengan cara tersebut, perusahaan dan karyawan dapat berkembang bersama menghadapi perubahan dunia kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. (2026). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,68 persen. Rata-rata upah buruh sebesar 3,29 juta rupiah.
Badan Pusat Statistik. (2025). Cerita Data Statistik untuk Indonesia – Mismatch Pendidikan–Pekerjaan Pemuda Indonesia: Implikasi Bagi Bonus Demografi. Sumber BPS
Kementerian Ketenagakerjaan RI. (2026). Menaker Tekankan Pelatihan Vokasi agar Lulusan Siap Masuk Dunia Kerja. Sumber Kemnaker
BBPVP Bandung. (2026). Pendaftaran Tailor Made Training (TMT) BBPVP Bandung Tahun 2026.
International Labour Organization. (2025). ILO Promotes Skills Development Fund Mechanism for Indonesia. ILO, 12 Juni 2025.
Dosen Pengampu:
MUKHAMAD KHOTIB ARIFAI SE.,MM
Editor : Fathurroji













