Pengangguran Dan Pengaruhnya Terhadap Perekonomian Indonesia

Riski Fadlilah dan Maya Ardiana (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Rabu, 30 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Media Outsourcing | Pengangguran merupakan salah satu permasalahan ekonomi yang berkaitan langsung dengan kondisi pasar tenaga kerja. Pengangguran terjadi ketika sebagian penduduk yang termasuk dalam angkatan kerja belum memperoleh pekerjaan. Keberadaan pengangguran tidak hanya berkaitan dengan hilangnya kesempatan memperoleh pendapatan, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan rumah tangga dalam melakukan konsumsi dan memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam perekonomian, tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang berperan dalam menghasilkan barang dan jasa. Ketika tenaga kerja yang tersedia tidak sepenuhnya terserap oleh kegiatan ekonomi, terdapat sumber daya produktif yang belum dimanfaatkan secara optimal. Badan Pusat Statistik menggunakan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan kondisi pengangguran. TPT menunjukkan persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah angkatan kerja Indonesia pada Agustus 2025 mencapai 154,00 juta orang, meningkat sebesar 1,89 juta orang dibandingkan Agustus 2024. Pada periode yang sama, jumlah penduduk yang bekerja mencapai 146,54 juta orang, meningkat sebesar 1,90 juta orang dibandingkan Agustus 2024. Sementara itu, TPT Indonesia pada Agustus 2025 tercatat sebesar 4,85 persen, turun 0,06 persen poin dibandingkan Agustus 2024.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penurunan tingkat pengangguran berlangsung bersamaan dengan peningkatan jumlah angkatan kerja dan penduduk yang bekerja. Kondisi tersebut penting diperhatikan karena pertumbuhan jumlah angkatan kerja membutuhkan penciptaan lapangan pekerjaan yang mampu menyerap tambahan tenaga kerja.

Persoalan pengangguran juga tidak hanya berkaitan dengan jumlah orang yang tidak bekerja. Struktur pendidikan, keterampilan, jenis pekerjaan, sektor ekonomi, serta kualitas pekerjaan turut menentukan kondisi pasar tenaga kerja. BPS mencatat bahwa pada Agustus 2025 TPT tertinggi berdasarkan tingkat pendidikan berada pada kelompok pendidikan menengah, yaitu 7,58 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kebutuhan untuk memperhatikan kesesuaian antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan dunia kerja. Pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai penciptaan kesempatan kerja yang memadai dapat menyebabkan peningkatan jumlah angkatan kerja tidak sepenuhnya diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja.

Permasalahan tersebut menjadi penting dalam konteks perekonomian Indonesia karena tenaga kerja memiliki hubungan dengan pendapatan masyarakat, konsumsi rumah tangga, produktivitas, kemiskinan, dan kesejahteraan. Oleh karena itu, analisis mengenai pengangguran diperlukan untuk memahami kondisi pasar tenaga kerja sekaligus implikasinya terhadap perekonomian nasional.

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis kondisi pengangguran di Indonesia serta membahas keterkaitannya dengan aktivitas dan perkembangan perekonomian Indonesia.      

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi literatur. Metode tersebut digunakan untuk memberikan gambaran mengenai kondisi pengangguran di Indonesia serta menganalisis implikasinya terhadap perekonomian.

Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari publikasi resmi Badan Pusat Statistik (BPS), khususnya Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Agustus 2025 dan Keadaan Pekerja di Indonesia Agustus 2025. Publikasi Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Agustus 2025 menggunakan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 dan menyajikan kondisi ketenagakerjaan berdasarkan jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, serta perkembangan ketenagakerjaan.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan studi kepustakaan. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah angkatan kerja, jumlah penduduk bekerja, jumlah pengangguran, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), serta karakteristik pengangguran.

Analisis dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan perkembangan indikator ketenagakerjaan dan menghubungkannya dengan konsep ekonomi mengenai tenaga kerja, pendapatan, konsumsi, dan aktivitas ekonom

RESULT AND DISCUSSION

RESULT

Kondisi Pengangguran Indonesia

Tingkat Pengangguran Terbuka merupakan indikator penting dalam melihat kondisi pasar tenaga kerja. BPS mendefinisikan TPT sebagai indikator yang menggambarkan persentase pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja.

Pada Agustus 2025, TPT Indonesia mencapai 4,85 persen. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 0,06 persen poin dibandingkan Agustus 2024. Pada periode yang sama, jumlah angkatan kerja mencapai 154,00 juta orang dan penduduk yang bekerja mencapai 146,54 juta orang.

Tabel 1. Kondisi Ketenagakerjaan Indonesia
Indikator Agustus 2024 Agustus 2025 Perubahan
     
Angkatan kerja 152,11 juta 154,00 juta 1,89 juta
Penduduk bekerja 144,64 juta 146,54 juta 1,90 juta
TPT 4,91% 4,85% -0,06 poin
Rata-rata upah buruh Rp 3,27 juta Rp 3,33 juta +1,94%

Source: BPS, Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2025

Data tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah penduduk bekerja lebih besar daripada pertambahan jumlah angkatan kerja secara keseluruhan, sehingga TPT mengalami penurunan.

Namun, penurunan TPT tidak berarti seluruh persoalan ketenagakerjaan telah terselesaikan. Pasar kerja juga menghadapi persoalan mengenai kualitas pekerjaan, tingkat upah, pekerja tidak penuh, serta kesesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri.

Pengangguran dan Pertumbuhan Angkatan Kerja

Pertumbuhan penduduk usia kerja dapat meningkatkan jumlah tenaga kerja potensial. Apabila sebagian penduduk memasuki angkatan kerja, perekonomian harus mampu menciptakan kesempatan kerja yang cukup.

Baca Juga :  Pentingnya Handling Komplain dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan

Hubungannya dapat digambarkan sebagai berikut:

Pertumbuhan Penduduk Usia Kerja

Pertumbuhan Angkatan Kerja

Kebutuhan Lapangan Kerja

Penyerapan Tenaga Kerja

Pendapatan Rumah Tangga

Konsumsi Rumah Tangga

Aktivitas Perekonomian

Apabila pertumbuhan kesempatan kerja lebih lambat dibandingkan pertumbuhan angkatan kerja, jumlah pengangguran dapat meningkat. Sebaliknya, apabila penciptaan lapangan kerja mampu menyerap tambahan angkatan kerja, tingkat pengangguran dapat menurun.

Data BPS menunjukkan bahwa pada Agustus 2025 jumlah angkatan kerja meningkat 1,89 juta orang, sedangkan jumlah penduduk bekerja meningkat 1,90 juta orang dibandingkan Agustus 2024.

Pengangguran dan Pendapatan Rumah Tangga

Pengangguran memiliki hubungan langsung dengan pendapatan individu dan rumah tangga. Individu yang tidak memperoleh pekerjaan kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan dari pekerjaan tersebut.

Pendapatan yang lebih rendah dapat menyebabkan rumah tangga mengurangi pengeluaran konsumsi. Secara sederhana:

Pengangguran → Pendapatan Menurun → Daya Beli Menurun → Konsumsi Menurun

Apabila terjadi secara luas, penurunan konsumsi rumah tangga dapat memengaruhi permintaan terhadap barang dan jasa.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masalah pengangguran memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar masalah individu. Pasar tenaga kerja berkaitan dengan pendapatan masyarakat dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Namun, besarnya dampak pengangguran terhadap konsumsi tidak selalu sama pada setiap rumah tangga. Rumah tangga dapat memiliki tabungan, pendapatan dari anggota keluarga lain, bantuan sosial, atau sumber pendapatan lainnya. Oleh karena itu, hubungan antara pengangguran dan konsumsi perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi rumah tangga.

Pengangguran dan Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi dan kondisi pasar tenaga kerja memiliki hubungan yang erat. Pertumbuhan aktivitas produksi dapat meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga kerja, meskipun besarnya penyerapan tenaga kerja bergantung pada sektor ekonomi, teknologi produksi, produktivitas, serta struktur industri.

Pada 2025, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,11 persen, sedangkan TPT pada Agustus 2025 sebesar 4,85 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berlangsung bersamaan dengan penurunan TPT pada periode yang berdekatan. Namun, hubungan tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai hubungan sebab-akibat hanya berdasarkan dua angka tersebut. Untuk menentukan pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap pengangguran diperlukan penelitian empiris dengan metode statistik dan periode pengamatan yang memadai.

Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi perlu dilihat tidak hanya dari peningkatan output, tetapi juga dari kemampuan aktivitas ekonomi menciptakan pekerjaan yang produktif dan berkelanjutan.

Struktur Pendidikan dan Pengangguran

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang berkaitan dengan kondisi tenaga kerja. Perbedaan tingkat pendidikan dapat memengaruhi jenis pekerjaan yang dapat diakses, keterampilan yang dimiliki, serta kesesuaian antara kompetensi pekerja dengan kebutuhan perusahaan.

BPS mencatat bahwa pada Agustus 2025 TPT tertinggi berdasarkan tingkat pendidikan berada pada kelompok pendidikan menengah, yaitu 7,58 persen.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan pendidikan secara umum perlu diikuti dengan peningkatan relevansi kompetensi terhadap kebutuhan pasar kerja. Pendidikan formal perlu dilengkapi dengan keterampilan teknis, kemampuan digital, komunikasi, pemecahan masalah, serta kompetensi lain yang dibutuhkan oleh dunia kerja.

Pengangguran dan Transformasi Struktur Ekonomi

Perekonomian Indonesia terdiri atas berbagai sektor, seperti pertanian, industri, perdagangan, konstruksi, transportasi, informasi dan komunikasi, serta berbagai sektor jasa.

Perubahan struktur ekonomi dapat menyebabkan perubahan kebutuhan tenaga kerja. Sektor tertentu dapat berkembang dan menciptakan lapangan pekerjaan baru, sementara sektor lainnya dapat mengalami perubahan kebutuhan tenaga kerja akibat teknologi, perubahan permintaan, atau efisiensi produksi.

BPS mencatat bahwa pada Agustus 2025, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi lapangan usaha dengan peningkatan jumlah penduduk bekerja terbesar, yaitu sekitar 0,49 juta orang dibandingkan Agustus 2024.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja tidak hanya terjadi pada sektor industri dan jasa, tetapi juga tetap memiliki peranan penting pada sektor primer.

Pengangguran dan Kualitas Pekerjaan

Analisis ketenagakerjaan tidak cukup hanya melihat apakah seseorang bekerja atau tidak. Kualitas pekerjaan juga menjadi aspek penting.

Seseorang yang bekerja dalam jumlah jam kerja yang rendah atau bekerja dalam kondisi yang belum sepenuhnya memanfaatkan kapasitas tenaga kerja dapat menghadapi kondisi ekonomi yang berbeda dibandingkan pekerja penuh waktu.

BPS membedakan pekerja tidak penuh menjadi setengah penganggur dan pekerja paruh waktu. Data Sakernas Agustus 2025 menunjukkan keberadaan pekerja tidak penuh tetap menjadi bagian dari kondisi pasar kerja Indonesia.

Dengan demikian, evaluasi perekonomian sebaiknya tidak hanya menggunakan TPT sebagai indikator tunggal. Jumlah penduduk bekerja, jam kerja, upah, status pekerjaan, dan sektor pekerjaan juga perlu diperhatikan untuk memperoleh gambaran ketenagakerjaan yang lebih komprehensif.

Dampak Pengangguran terhadap Perekonomian Indonesia

Secara konseptual, pengangguran dapat memengaruhi perekonomian melalui beberapa saluran.

1. Pendapatan masyarakat

Pengangguran menyebabkan sebagian individu kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan dari pekerjaan.

2. Konsumsi rumah tangga

Penurunan pendapatan dapat mengurangi kemampuan konsumsi rumah tangga, terutama untuk kebutuhan yang bersifat tidak wajib.

3. Produksi nasional

Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi. Apabila sebagian angkatan kerja tidak terserap, kapasitas produktif yang tersedia belum dimanfaatkan secara maksimal.

Baca Juga :  Definisi Pengangguran, Penyebab Pengangguran, Jenis-Jenis Pengangguran, dan Solusi Mengatasi Pengangguran

4. Kemiskinan dan kesejahteraan

Kehilangan pekerjaan dapat meningkatkan risiko penurunan kesejahteraan rumah tangga, terutama ketika tidak terdapat sumber pendapatan alternatif.

5. Penerimaan negara

Penurunan pendapatan dan aktivitas ekonomi dapat memengaruhi basis penerimaan pajak, meskipun besarnya dampak bergantung pada struktur ekonomi dan kebijakan fiskal.

6. Beban sosial ekonomi

Pengangguran yang berlangsung lama dapat menimbulkan kebutuhan terhadap berbagai bentuk kebijakan perlindungan sosial dan program peningkatan keterampilan.

Strategi Mengatasi Pengangguran di Indonesia

Pengurangan pengangguran membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penciptaan

pekerjaan dalam jumlah besar, tetapi juga pada kualitas dan kesesuaian pekerjaan.

Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain:

Pertama, meningkatkan keterampilan tenaga kerja. Program pendidikan dan pelatihan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja.

Kedua, memperkuat hubungan pendidikan dengan industri. Kurikulum pendidikan perlu memperhatikan perubahan kebutuhan kompetensi di dunia usaha.

Ketiga, mendorong pengembangan sektor yang memiliki potensi penyerapan tenaga kerja. Pengembangan industri, UMKM, pariwisata, ekonomi kreatif, serta sektor jasa dapat menjadi bagian dari strategi penciptaan kesempatan kerja.

Keempat, meningkatkan kualitas informasi pasar kerja. Informasi mengenai lowongan, keterampilan, lokasi pekerjaan, dan tingkat upah dapat membantu mempertemukan pencari kerja dengan pemberi kerja.

Kelima, mendorong kewirausahaan produktif. Pengembangan usaha baru dapat menciptakan kesempatan kerja sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi.

Keenam, memperkuat perlindungan tenaga kerja. Peningkatan kualitas pekerjaan perlu berjalan bersama dengan perlindungan dan jaminan sosial ketenagakerjaan.

DISCUSSION

Berdasarkan data ketenagakerjaan Agustus 2025, kondisi pengangguran Indonesia menunjukkan perkembangan yang relatif membaik dari sisi TPT. TPT turun menjadi 4,85 persen dibandingkan 4,91 persen pada Agustus 2024. Pada saat yang sama, jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 146,54 juta orang.

Namun, kondisi tersebut perlu dipahami secara lebih luas. Pengangguran bukan hanya persoalan jumlah penduduk yang belum bekerja, melainkan bagian dari dinamika pasar tenaga kerja. Peningkatan angkatan kerja menciptakan kebutuhan terhadap lapangan pekerjaan baru, sementara perubahan struktur ekonomi menciptakan tuntutan terhadap kompetensi yang berbeda.

Dengan demikian, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak cukup dinilai berdasarkan pertumbuhan PDB atau penurunan TPT saja. Kualitas lapangan kerja, produktivitas, tingkat upah, jam kerja, serta kesesuaian kompetensi juga perlu diperhatikan.

Hubungan antara pengangguran dan perekonomian juga berlangsung melalui rumah tangga. Pekerjaan memberikan pendapatan yang memungkinkan rumah tangga melakukan konsumsi. Konsumsi kemudian menjadi bagian dari aktivitas permintaan dalam perekonomian. Oleh karena itu, penciptaan kesempatan kerja produktif dapat memberikan manfaat ekonomi melalui peningkatan pendapatan dan kemampuan konsumsi rumah tangga.

CONCLUSSION AND RECOMMENDATION

CONCLUSION

Pengangguran merupakan salah satu indikator penting dalam menilai kondisi pasar tenaga kerja dan perekonomian Indonesia. Pada Agustus 2025, TPT Indonesia mencapai 4,85 persen, turun 0,06 persen poin dibandingkan Agustus 2024. Pada periode yang sama, jumlah angkatan kerja mencapai 154,00 juta orang dan jumlah penduduk bekerja mencapai 146,54 juta orang.

Penurunan TPT menunjukkan adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja, tetapi belum berarti seluruh persoalan ketenagakerjaan terselesaikan. Struktur pendidikan, keterampilan, kualitas pekerjaan, tingkat upah, serta perubahan struktur ekonomi tetap menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.

Pengangguran memiliki implikasi terhadap perekonomian melalui pendapatan rumah tangga, konsumsi, produktivitas, kesejahteraan, dan aktivitas ekonomi. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan output nasional, tetapi juga menciptakan kesempatan kerja yang produktif dan sesuai dengan kompetensi tenaga kerja.

RECOMMENDATION

Pemerintah, dunia pendidikan, dan dunia usaha perlu memperkuat keterkaitan antara kebutuhan pasar kerja dengan kompetensi tenaga kerja. Program pendidikan dan pelatihan perlu diarahkan pada keterampilan yang relevan dengan perkembangan sektor ekonomi. Selain itu, penciptaan lapangan kerja produktif, pengembangan kewirausahaan, peningkatan kualitas informasi pasar kerja, serta perlindungan tenaga kerja perlu menjadi bagian dari kebijakan ketenagakerjaan.

Penelitian selanjutnya dapat menggunakan data panel provinsi atau data time series untuk menganalisis secara kuantitatif hubungan antara pengangguran dengan pertumbuhan ekonomi, inflasi, investasi, pendidikan, dan variabel ekonomi lainnya.

 

REFERENCES

Darman, D. (2013). Pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat pengangguran: Analisis hukum Okun. Journal The Winners, 14(1), 1–12. https://doi.org/10.21512/tw.v14i1.639

Hamzah, M., & Fitriyah. (2025). Causality between economic growth and unemployment in Indonesia. E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, 14(8). https://doi.org/10.24843/EEB.2025.v14.i08.p06

Leasiwal, T. C., Oppier, H., Tutupoho, A., & Palloma, A. (2022). Examining the effects of economic growth on unemployment in Indonesia. Journal of Social Science, 3(5), 972–985. https://doi.org/10.46799/jss.v3i5.389

Nilawati, R., Heryati, Y., & Suryati, T. F. (2024). Pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap pengangguran. FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi, 26(1), 155–162. https://doi.org/10.30872/jfor.v26i1.15612

Okun, A. M. (1962). Potential GNP: Its measurement and significance. Proceedings of the Business and Economic Statistics Section of the American Statistical Association, 98–104.

Prawira, S. (2018). Pengaruh pertumbuhan ekonomi, upah minimum provinsi, dan tingkat pendidikan terhadap pengangguran terbuka di Indonesia. Jurnal Ecogen, 1(4), 162. https://doi.org/10.24036/jmpe.v1i1.4735

Suhendra, I., & Wicaksono, B. H. (2020). Tingkat pendidikan, upah, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi terhadap pengangguran di Indonesia. Jurnal Ekonomi-Qu, 6(1), 1–17. https://doi.org/10.35448/jequ.v6i1.4143

Keynes, J. M. (1936). The general theory of employment, interest and money. Macmillan.

Badan Pusat Statistik. (2025). Keadaan ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2025. Badan Pusat Statistik.

Berita Terkait

Integrated Solution Concept: Green Security Service
Public Speaking Bukan Bakat, Melainkan Keterampilan yang Bisa Dilatih
Analisis Kebutuhan Tenaga Kerja dan Kompetensi SDM sebagai Penentu Kelayakan Usaha di Perusahaan
Mencari, Mengembangkan, dan Mempertahankan Talenta di Tengah Transformasi Digital
Kenapa Karyawan Hebat Justru Sering Resign Duluan? Ini Kesalahan Fatal dalam Talent Management
Pengaruh Implementasi Manajemen Talenta Terhadap Kinerja Karyawan di Era Transformasi Digital
Manajemen Talenta: Budaya Organisasi sebagai Penyaring Talenta untuk Menarik dan Mempertahankan Karyawan
Siapa Pengganti Anda? Bom Waktu Suksesi yang Mengintai Karier di Indonesia
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:43

Integrated Solution Concept: Green Security Service

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:22

Public Speaking Bukan Bakat, Melainkan Keterampilan yang Bisa Dilatih

Selasa, 13 Oktober 2026 - 06:30

Analisis Kebutuhan Tenaga Kerja dan Kompetensi SDM sebagai Penentu Kelayakan Usaha di Perusahaan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 10:11

Mencari, Mengembangkan, dan Mempertahankan Talenta di Tengah Transformasi Digital

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 10:07

Kenapa Karyawan Hebat Justru Sering Resign Duluan? Ini Kesalahan Fatal dalam Talent Management

Berita Terbaru

Insight

Integrated Solution Concept: Green Security Service

Rabu, 14 Okt 2026 - 19:43