Media Outsourcing | Penelitian sederhana ini bertujuan menganalisis kebutuhan tenaga kerja pada usaha mikro Kantin Pakde Ompong di lingkungan Universitas Pamulang serta menjelaskan peran perencanaan tenaga kerja dalam mendukung pengembangan usaha. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara sederhana dengan pemilik usaha dan observasi langsung terhadap aktivitas operasional kantin. Hasil wawancara menunjukkan bahwa kegiatan usaha saat ini ditangani oleh pemilik bersama istrinya. Pembagian kerja dilakukan secara informal: pemilik berfokus pada persiapan dan pengolahan makanan, sedangkan istri membantu menyiapkan pesanan, melayani pelanggan, dan menangani pembayaran. Dua orang dinilai cukup untuk kondisi normal, tetapi beban kerja meningkat pada jam ramai sehingga beberapa pekerjaan harus dilakukan bersamaan dan pelayanan berpotensi melambat. Temuan ini menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja sebaiknya ditentukan berdasarkan volume pelanggan, pembagian tugas, waktu pelayanan, serta kemampuan keuangan usaha. Rekomendasi awal adalah memperjelas pembagian kerja dan mencatat beban operasional harian, kemudian mempertimbangkan tenaga bantu paruh waktu pada jam sibuk apabila peningkatan permintaan dan pendapatan memungkinkan. Kajian ini terbatas pada wawancara dan observasi sederhana, sehingga tidak dimaksudkan sebagai pengukuran kuantitatif kebutuhan tenaga kerja.
Kata kunci: perencanaan tenaga kerja, manajemen sumber daya manusia, usaha mikro, UMKM kuliner.
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Usaha mikro memiliki peran penting dalam menyediakan barang dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Di lingkungan perguruan tinggi, kantin menjadi salah satu fasilitas yang membantu mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan memperoleh makanan dan minuman dengan mudah. Agar usaha dapat berjalan dengan baik, pemilik tidak hanya perlu memperhatikan kualitas produk dan harga, tetapi juga memastikan bahwa jumlah orang yang mengerjakan kegiatan operasional sesuai dengan kebutuhan usaha.
Kantin Pakde Ompong merupakan usaha kuliner yang melayani pelanggan di lingkungan Universitas Pamulang. Berdasarkan wawancara sederhana, kegiatan sehari-hari saat ini ditangani oleh pemilik dan istrinya tanpa pegawai tetap. Pemilik mengerjakan persiapan dan pengolahan makanan, sedangkan istrinya membantu menyiapkan pesanan, melayani pelanggan, dan menangani pembayaran. Pada kondisi normal, dua orang dianggap masih dapat menjalankan kegiatan usaha. Namun, ketika pelanggan datang bersamaan, pekerjaan menjadi lebih padat karena memasak, melayani pesanan, menyiapkan kemasan, dan menerima pembayaran dapat berlangsung pada waktu yang sama.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja tidak selalu ditentukan oleh besar kecilnya usaha saja. Kebutuhan juga dipengaruhi oleh jumlah pesanan, variasi menu, waktu puncak pelanggan, kecepatan pelayanan, dan kemampuan usaha membayar tenaga tambahan. Karena itu, analisis kebutuhan tenaga kerja dapat membantu pemilik mengambil keputusan yang lebih terencana, bukan sekadar menambah pegawai ketika pekerjaan sudah terlalu berat.
1.2 Pentingnya Topik dalam Manajemen Sumber Daya Manusia
Dalam manajemen sumber daya manusia (MSDM), perencanaan tenaga kerja merupakan proses memperkirakan jumlah dan kemampuan orang yang dibutuhkan agar pekerjaan dapat diselesaikan secara efektif. Pada usaha mikro, proses ini dapat dilakukan secara sederhana, misalnya dengan mencatat jam ramai, jumlah pesanan, waktu penyelesaian, tugas yang menumpuk, serta biaya yang mungkin timbul apabila mempekerjakan orang tambahan. Perencanaan yang sesuai dapat membantu mengurangi keterlambatan pelayanan sekaligus mencegah biaya tenaga kerja yang belum mampu ditanggung usaha.
1.3 Rumusan Masalah dan Kesenjangan Praktis
Rumusan masalah dalam kajian ini adalah:
- bagaimana pembagian tugas tenaga kerja di Kantin Pakde Ompong saat ini?
- Kendala apa yang muncul ketika pelanggan meningkat?
- Bagaimana pemilik dapat menentukan kebutuhan tenaga kerja secara bertahap sesuai perkembangan usaha?
Kajian praktis ini berfokus pada usaha kantin kecil yang masih mengandalkan tenaga keluarga. Dengan demikian, analisis diarahkan pada kebutuhan nyata di lapangan, bukan pada asumsi bahwa setiap usaha yang berkembang harus langsung merekrut pegawai tetap.
1.4 Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk
- mendeskripsikan kondisi tenaga kerja Kantin Pakde Ompong
- mengidentifikasi kegiatan yang menimbulkan beban kerja pada jam ramai
- menghubungkan temuan tersebut dengan konsep perencanaan SDM, dan menyusun rekomendasi yang realistis bagi pengembangan usaha.
2. TINJAUAN LITERATUR
2.1 Konsep Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia adalah proses mengelola orang yang bekerja dalam organisasi agar tujuan organisasi dan kebutuhan pekerja dapat berjalan seimbang. Kegiatan MSDM meliputi perencanaan, pengadaan tenaga kerja, penempatan, pengarahan, pengembangan, penilaian, kompensasi, dan pemeliharaan hubungan kerja. Dalam usaha mikro, fungsi tersebut dapat dilakukan secara sederhana oleh pemilik, tetapi tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan pekerjaan dan kemampuan orang yang menjalankannya (Dessler, 2020; Armstrong & Taylor, 2020).
2.2 Pengertian Perencanaan Tenaga Kerja
Perencanaan tenaga kerja merupakan kegiatan memperkirakan jumlah pekerja, kompetensi, dan waktu kerja yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan usaha. Perencanaan tidak hanya menjawab berapa orang yang dibutuhkan, tetapi juga pekerjaan apa yang harus dilakukan, kapan bantuan diperlukan, serta keterampilan apa yang harus dimiliki. Pada usaha kuliner, contohnya adalah memisahkan tugas persiapan bahan, memasak, pengemasan, pelayanan pelanggan, pembayaran, dan kebersihan.
2.3 Tujuan Perencanaan Tenaga Kerja
Tujuan perencanaan tenaga kerja antara lain memastikan pekerjaan utama memiliki penanggung jawab, menjaga kelancaran operasional, mengurangi penumpukan pekerjaan, meningkatkan mutu pelayanan, dan menyesuaikan biaya tenaga kerja dengan kemampuan keuangan. Perencanaan yang baik juga membantu pemilik mengetahui apakah masalah operasional benar-benar membutuhkan pegawai tambahan atau masih dapat diatasi dengan pembagian tugas dan penataan alur kerja.
2.4 Fungsi MSDM yang Relevan
Fungsi MSDM yang paling relevan dengan kasus ini adalah perencanaan, analisis pekerjaan, rekrutmen dan seleksi, penempatan, pengarahan, serta evaluasi kinerja. Analisis pekerjaan membantu pemilik menjabarkan tugas dan tanggung jawab. Jika kebutuhan tambahan terbukti konsisten, rekrutmen dapat dilakukan dengan kriteria sederhana, seperti disiplin, kebersihan, kemampuan bekerja cepat, komunikasi yang baik, dan kesediaan bekerja pada jam yang dibutuhkan.
2.5 Peran Strategis SDM bagi Usaha Mikro
Pada usaha mikro, tenaga kerja sering kali menjadi bagian langsung dari kualitas produk dan pengalaman pelanggan. Ketika tugas tidak terbagi dengan baik, pemilik dapat kesulitan menjaga konsistensi rasa, kecepatan pelayanan, kebersihan, dan pencatatan transaksi sekaligus. Literatur mengenai UMKM menyoroti bahwa pengelolaan SDM yang masih informal dan perencanaan kebutuhan yang terbatas merupakan tantangan yang perlu ditangani melalui pemetaan pekerjaan, kompetensi, serta kebutuhan tenaga kerja secara bertahap (Batubara et al., 2024; Febriyanti et al., 2024).
2.6 Analisis Kebutuhan Tenaga Kerja
Analisis kebutuhan tenaga kerja dapat dilakukan dengan cara mengamati volume pekerjaan, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, jumlah pesanan pada jam normal dan jam sibuk, serta pekerjaan yang sering tertunda. Untuk usaha kecil, cara sederhana yang bisa digunakan adalah pencatatan selama satu sampai dua minggu. Pemilik dapat membandingkan jumlah pesanan per jam dengan waktu pelayanan, mencatat kapan antrean terjadi, dan melihat apakah keterlambatan muncul karena kekurangan orang, alur kerja yang kurang tertata, atau persiapan bahan yang belum selesai.
Jika bantuan tambahan diperlukan hanya pada waktu tertentu, pilihan tenaga paruh waktu atau tenaga harian dapat dipertimbangkan sebelum merekrut pegawai tetap. Namun, keputusan tersebut perlu disesuaikan dengan ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku, kesepakatan kerja yang jelas, keselamatan dan kebersihan kerja, serta kemampuan keuangan usaha. Studi tentang perencanaan tenaga kerja pada UMKM juga menunjukkan pentingnya mengaitkan kebutuhan pekerja dengan fluktuasi permintaan dan produktivitas operasional (Hikmah et al., 2025; Salam et al., 2026).
3. METODE PENULISAN
3.1 Jenis dan Pendekatan
Penulisan ini menggunakan metode penelitian sederhana dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan ini dipilih untuk menggambarkan kondisi tenaga kerja dan kegiatan operasional berdasarkan keterangan pemilik serta pengamatan langsung, bukan untuk menguji hubungan statistik antarvariabel.
3.2 Objek dan Sumber Informasi
Objek kajian adalah Kantin Pakde Ompong, yaitu usaha kuliner yang berada di lingkungan Universitas Pamulang. Sumber informasi utama adalah pemilik usaha yang diwawancarai secara sederhana. Dokumentasi foto digunakan sebagai pendukung bahwa kunjungan dan wawancara dilakukan di lokasi usaha.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan melalui (1) wawancara sederhana mengenai lama usaha, jumlah orang yang terlibat, pembagian tugas, kondisi saat ramai, kendala, dan rencana pengembangan; serta (2) observasi langsung terhadap tempat usaha dan situasi wawancara. Informasi yang disajikan merupakan ringkasan dari keterangan yang tersedia. Angka biaya operasional sekitar Rp.4.000.000 per bulan disebutkan dalam wawancara sebagai perkiraan biaya operasional 5 kios; angka ini tidak diperlakukan sebagai biaya gaji dan tidak dirinci lebih lanjut karena rincian komponen biaya belum tersedia.
3.4 Teknik Analisis Data
Informasi diringkas berdasarkan tema: jumlah dan pembagian tugas tenaga kerja, beban kerja pada jam ramai, kendala operasional, serta kemungkinan kebutuhan tenaga tambahan. Temuan kemudian dibandingkan secara konseptual dengan literatur perencanaan SDM dan pengelolaan tenaga kerja pada UMKM. Karena jumlah informan terbatas dan tidak tersedia catatan transaksi atau pengukuran waktu pelayanan, hasilnya bersifat deskriptif dan tidak dapat digeneralisasi ke seluruh usaha kantin.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum dan Kondisi Tenaga Kerja
Berdasarkan wawancara, Kantin Pakde Ompong telah berjalan selama beberapa tahun dan menawarkan sejumlah menu makanan serta minuman. Operasional harian saat ini dilakukan oleh pemilik dan istrinya. Pemilik menangani persiapan dan pengolahan makanan, sementara istrinya membantu menyiapkan pesanan, melayani pelanggan, dan menangani pembayaran. Pembagian tugas ini berlangsung secara fleksibel; ketika kondisi ramai, keduanya saling membantu sesuai pekerjaan yang paling mendesak.
Gambar 1. Kondisi lokasi Kantin Pakde Ompong. Sumber: dokumentasi kelompok.
4.2 Kendala pada Jam Ramai
Pemilik menyampaikan bahwa dua orang masih cukup untuk melayani kondisi normal. Kendala muncul ketika banyak pelanggan datang dalam waktu berdekatan. Pada situasi tersebut, kegiatan memasak, menyiapkan pesanan, melayani pelanggan, menerima pembayaran, dan mengurus kemasan dapat terjadi bersamaan. Akibatnya, beban kerja meningkat dan pelayanan berpotensi menjadi lebih lambat. Kondisi ini merupakan indikasi perlunya evaluasi pembagian kerja dan kebutuhan bantuan, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa usaha harus segera menambah pegawai tetap.
Gambar 2. Dokumentasi wawancara kelompok dengan pemilik usaha. Sumber: dokumentasi kelompok.
4.3 Analisis Kebutuhan Tenaga Kerja
Temuan lapangan menunjukkan adanya perbedaan antara kebutuhan tenaga kerja pada jam normal dan jam ramai. Oleh karena itu, penambahan tenaga kerja sebaiknya didasarkan pada pengamatan terukur. Selama satu sampai dua minggu, pemilik dapat mencatat jumlah pesanan per jam, lama menunggu pelanggan, jenis pekerjaan yang tertunda, dan waktu ketika antrean paling sering terjadi. Data sederhana ini dapat membantu membedakan masalah kekurangan tenaga kerja dengan masalah alur kerja atau persiapan bahan.
Apabila catatan menunjukkan bahwa antrean dan keterlambatan terjadi berulang pada jam tertentu, pilihan yang paling realistis adalah mencoba tenaga bantu paruh waktu atau harian pada jam sibuk. Tugasnya dapat dibatasi, misalnya membantu pengemasan, menyiapkan bahan, membersihkan meja, atau membantu pelayanan, sementara pemilik tetap mengawasi kualitas makanan dan transaksi. Uji coba perlu dievaluasi dari sisi perubahan waktu pelayanan, kepuasan pelanggan, penjualan, serta biaya tenaga tambahan. Jika pendapatan tambahan tidak menutup biaya yang muncul, pembagian kerja dan proses persiapan perlu diperbaiki terlebih dahulu.
4.4 Pertimbangan Biaya dan Pengembangan Usaha
Biaya untuk lima lapak diperkirakan sebesar Rp4.000.000 per bulan, dengan biaya setiap lapak Rp800.000. Sebelum merekrut pekerja, pemilik perlu memisahkan pencatatan biaya lapak, belanja bahan baku, listrik, gas, kemasan, biaya lain, pendapatan penjualan, dan laba usaha. Setelah itu, biaya tenaga tambahan dapat dibandingkan dengan peningkatan pendapatan atau penghematan waktu yang dihasilkan.
Usaha Kantin Pakde Ompong memiliki lima lapak. Dengan beberapa lapak yang perlu dikelola, pembagian tugas dan pengaturan operasional perlu disesuaikan dengan jumlah pesanan, jam buka, menu yang disediakan, serta kemampuan pekerja yang ada. Jumlah lapak tidak otomatis menentukan jumlah pegawai yang harus direkrut. Keputusan penambahan tenaga kerja sebaiknya mempertimbangkan beban kerja nyata dan kestabilan penjualan agar usaha dapat berkembang tanpa menciptakan beban biaya tetap yang terlalu besar.
4.5 Rekomendasi Praktis
Pertama, buat daftar tugas sebelum buka, selama pelayanan, dan setelah tutup. Kedua, tentukan siapa yang bertanggung jawab atas persiapan bahan, memasak, pengemasan, pembayaran, dan kebersihan, sambil tetap memberi ruang untuk saling membantu ketika ramai. Ketiga, catat pesanan dan antrean selama satu sampai dua minggu. Keempat, hitung pendapatan serta pengeluaran secara terpisah agar kemampuan membayar tenaga bantu dapat dinilai. Kelima, bila kebutuhan terbukti muncul secara rutin, lakukan uji coba tenaga bantu pada jam sibuk dan evaluasi hasilnya. Rekomendasi ini sejalan dengan literatur yang menekankan pentingnya pemetaan pekerjaan, kesesuaian kompetensi, dan perencanaan tenaga kerja yang fleksibel bagi UMKM (Maulana et al., 2026; Pramulya & Supena, 2025).
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kantin Pakde Ompong saat ini menjalankan kegiatan operasional dengan bantuan dua orang, yaitu pemilik dan istrinya. Pembagian tugas dilakukan secara informal dan dinilai cukup untuk kondisi normal. Ketika pelanggan datang bersamaan, beberapa pekerjaan berlangsung pada waktu yang sama sehingga beban kerja meningkat dan pelayanan berpotensi melambat. Dengan demikian, kebutuhan tenaga kerja perlu dinilai berdasarkan volume pesanan, waktu puncak, pembagian tugas, dan kemampuan keuangan, bukan hanya berdasarkan rencana menambah kios.
Kajian ini menyimpulkan bahwa langkah awal yang paling sesuai adalah memperjelas pembagian tugas, mencatat beban kerja dan antrean, serta membenahi pencatatan keuangan. Jika kebutuhan bantuan terjadi secara rutin dan biaya dapat ditanggung, pemilik dapat mencoba tenaga bantu paruh waktu atau harian pada jam sibuk sebelum memutuskan merekrut pegawai tetap. Kesimpulan ini bersifat awal karena data yang digunakan hanya berasal dari wawancara sederhana dan observasi langsung.
5.2 Saran
Pemilik disarankan mencatat jumlah pesanan, waktu pelayanan, dan pengeluaran usaha secara rutin. Kelompok penulis berikutnya dapat melengkapi kajian dengan wawancara lanjutan, pengamatan pada beberapa jam operasional, serta data penjualan dan biaya yang lebih rinci. Dengan data yang lebih lengkap, kebutuhan jumlah pekerja dan kelayakan biaya tenaga kerja dapat diperkirakan secara lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Armstrong, M., & Taylor, S. (2020). Armstrong’s handbook of human resource management practice (15th ed.). Kogan Page.
Badan Pusat Statistik. (2024). Pekerja industri mikro dan kecil menurut provinsi dan jenis industri. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDQ4IzI%3D/workers-engaged-industry-by-2-digit-isic.html
Batubara, R. W., Jayanti, S. E., & Hutauruk, R. P. S. (2024). Pengembangan model entrepreneurial human resource management 6M bagi UMKM di Kota Tebing Tinggi. Journal of Innovative and Creativity, 4(2), 1007–1012. https://doi.org/10.31004/joecy.v4i2.13519
Dessler, G. (2020). Human resource management (16th ed.). Pearson.
Febriyanti, Y., Suherman, E., & Angela, F. P. (2024). Strategi perencanaan tenaga kerja SDM UMKM Batik Ayu Telagasari. Journal of Management and Business, 6(3). https://doi.org/10.31539/jomb.v6i3.7448
Hasibuan, M. S. P. (2019). Manajemen sumber daya manusia (Edisi revisi). Bumi Aksara.
Hikmah, F., Magfiroh, A. L., Ramadani, M. U., Putra, M. A. E., & Setianingrum, N. (2025). Penerapan strategi perencanaan, perekrutan, dan penempatan SDM pada UMKM Mager Bowl di Jember. Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara. https://padangjurnal.web.id/index.php/menulis/article/view/389
Kasmir. (2019). Manajemen sumber daya manusia: Teori dan praktik. Rajawali Pers.
Mangkunegara, A. A. A. P. (2017). Manajemen sumber daya manusia perusahaan. Remaja Rosdakarya.
Mathis, R. L., Jackson, J. H., Valentine, S. R., & Meglich, P. (2017). Human resource management (15th ed.). Cengage Learning.
Maulana, D. Y., Nurlaila, Q., Sudrajat, D., & Samadara, S. (2026). Penguatan manajemen SDM UMKM melalui pendampingan pemetaan kompetensi dan kebutuhan tenaga kerja. Jurnal Cendekia Mengabdi Berinovasi dan Berkarya, 4(3). https://doi.org/10.56630/jenaka.v4i3.1836
Mondy, R. W., & Martocchio, J. J. (2016). Human resource management (14th ed.). Pearson.
Noe, R. A., Hollenbeck, J. R., Gerhart, B., & Wright, P. M. (2020). Fundamentals of human resource management (8th ed.). McGraw-Hill Education.
Pramulya, D., & Supena, C. C. (2025). Strategi usaha oleh tenaga kerja mandiri pemula dalam pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran. Dinamika: Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Negara, 12(1). https://jurnal.unigal.ac.id/dinamika/article/view/18678
Prasetyo, D., Nurmalia, V. D., & Wijayanti, L. E. (2020). Pemanfaatan sistem informasi cerdas untuk prediksi kebutuhan sumber daya manusia oleh UMKM. Jurnal Manajemen dan Perbankan, 7(1). https://doi.org/10.55963/jumpa.v7i1.329
Rizki, V. L. (2022). Analisis perencanaan dan pengembangan sumber daya manusia pada UMKM Bunda Mandiri Desa Tanggung Padang Lumajang. Jurnal Cakrawala Ilmiah, 1(6). https://doi.org/10.53625/jcijurnalcakrawalailmiah.v1i6.1516
Salam, A., Hidayat, A., Hidayat, D. A., Anjani, B. S., & Marselina, R. D. (2026). Analisis perencanaan tenaga kerja untuk meningkatkan produktivitas operasional pada UMKM Dinay Konveksi. Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Manajemen Indonesia, 2(2). https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/6417803
Sedarmayanti. (2017). Perencanaan dan pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan kompetensi, kinerja, dan produktivitas kerja. Refika Aditama.
Wulansari, N. A., Ranihusna, D., & Maftukhah, I. (2015). Strategi perencanaan SDM untuk peningkatan daya saing UMKM Batik Semarang. Prosiding SENDI_U. https://unisbank.ac.id/ojs/index.php/sendi_u/article/view/3303
Krisna, E. N., Andini, Y., Ridwan, M., & Ashari, M. I. (2025). Analisis pengeluaran biaya tenaga kerja usaha mikro dan kecil di Indonesia berdasarkan provinsi tahun 2024. Jurnal ESIT. https://openjournal.unpam.ac.id/index.php/ESIT/article/view/56455
Penulis Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang
- Fatih Tsani Bilad Syabani
- Febiana Mahmudah Sahra
- Ibnu Fajar Al Amin
- Inayah
- Karlina












